Ada 3 jenis guru, Anda termasuk yang mana ? (oleh munif chatib)

16 05 2012

Dalam minggu ini penulis banyak menerima undangan berbicara dalam acara halal bihalal beberapa sekolah. Hampir kebanyakan yang hadir adalah semua pengurus yayasan, kepala sekolah dewan guru dan semua karyawan yang bekerja di sekolah tersebut. Seorang kawan yang kebetulan menjadi direktur di sebuah sekolah membisikkan sesuatu yang penting sebelum saya naik panggung.

“Pak Munif tolong beri motivasi dan semangat para guru ya agar mereka lebih baik lagi dalam bekerja”.
Memang sekolah sebagai institusi yang didalamnya wajib membutuhkan sentuhan manajemen sumber daya manusia, sebagai maqom manajemen yang tertinggi, guru adalah komponen yang maha penting.

Bahkan kualitas pendidikan bangsa ini banyak ditentukan oleh kualitas para gurunya. Guru adalah ‘bos in the class’. Guru adalah orang yang bertatap muka langsung dengan peserta didik. Artinya roda komunitas yang bernama sekolah sangat diwarnai oleh kinerja para gurunya.
Pentingnya peranan dan kualitas seorang guru berdampingan dengan banyaknya problematika yang dihadapi oleh para guru. Hal yang mendasar pada problem tersebut adalah ‘KEMAUAN’ untuk maju. Apabila kita percaya tidak ada siswa yang bodoh dengan multiple intelligences-nya masing-masing, maka kita juga harus percaya bahwa ‘tidak ada guru yang tidak becus mengajar’. Hanya saja kenyataan yang terjadi adalah keengganan guru untuk terus belajar dan bekerja dengan baik disebabkan oleh tidak adanya ‘KEMAUAN’ untuk belajar dan maju.

Saya sangat setuju dengan pernyataan seorang teman yang memimpin sebuah sekolah yang berkualitas. “Pak Munif tidak semua guru lho mau diberikan pelatihan. Jika seperti itu maka sebagus apapun materi dan kemasan dalam pelatihan itu, biasanya guru tidak akan berhasil mengambil manfaat dari pelatihan itu. Oleh sebab itu, saya merancang sebuah sesi pendaftaran kepada guru-guru saya yang ‘MAU’ ikut pelatihan dengan batasan waktu. Dari situ saja saya sudah tahu, mana guru yang ‘tertarik’ dan ‘tidak tertarik’.

Dua tahun yang lalu pemerintah memulai melaksanakan program sertifikasi guru. Program ini sebenarnya diawali dari sebuah hipotesa, bahwa guru yang professional dan berkualitas akan terwujud apabila kesejahteraannya mencukupi. Sebaliknya jangan harap seorang guru akan professional, jika kesejahteraannya tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari.
Beberapa bulan yang lalu, ternyata hipotesa itu terjawab. Dari data statistik yang dianalisa oleh teman-teman asesor menyebutkan bahwa para guru penerima tunjangan profesi yang cukup besar, ternyata belum menunjukkan kemajuan kualitas dalam proses mengajarnya. Mereka tidak berubah, mengajar biasa-biasa saja. Meskipun mereka sudah menerima tunjangan profesi sebagaimana yang diharapkan pemerintah untuk menjadi guru yang professional dengan berbagai kriteria yang sudah ditentukan dalam proses sertifikasi guru.
Jadi menurut penulis ada hipotesa baru, yaitu ‘besarnya penghasilan guru belum tentu menjadi penyebab berkembangnya kualitas guru dalam bekerja’.
Dilihat dari faktor ‘KEMAUAN’ untuk maju, maka ada 3 jenis guru.

Pertama, ‘GURU ROBOT’, yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk, mengajar, lalu pulang. Mereka yang peduli kepada beban materi yang harus disampaikan kepada siswa. Mereka tidak mempunyai kepedulian terhadap kesulitan siswa dalam menerima materi. Apalagi kepedulian terhadap masalah sesame guru dan sekolah pada umumnya. Mereka tidak peduli dan mirip robot yang selalu menjalankan peritnah berdasarkan apa saja yang sudah di programkan. Guru jenis ini banyak sekali menggunakan ungkapan seperti ini.
“Wah …itu bukan masalahku…itu masalah kamu. Jadi selesaikan sendiri ….” Atau
“Maaf aku tidak dapat membantu … sebab hal ini bukan tugas saya…”.

Kedua, ‘GURU MATERIALIS’, yaitu guru yang selalu melakukan hitung-hitungan, mirip dengan aktivitas bisnis jual beli atau yang lainnya. Parahnya yang dijadikan patokannya adalah ‘HAK’ yang mereka terima. Barulah ‘KEWAJIBAN’ mereka akan dilaksanakan sebesar tergantung dari HAK yang mereka terima. Guru ini pada awalnya merasa professional, namun akhirnya akan terjebak dalam ‘KESOMBONGAN’ dalam bekerja. Sehingga tidak terlihat ‘benefiditasnya’ dalam bekerja. Ungkapan-ungkapan yang banyak kita dengan dari guru jenis ini antara lain:
“Cuma digaji sekian saja … kok mengharapkan saya total dalam mengajar… jangan harap ya …”.
“Percuma mau kreatif, orang penghasilan yang diberikan kepada saya hanya cukup untuk biaya transport…”.
“Kalau mengharapkan saya bekerja baik, ya turuti dong permintaan gaji saya sebesar …..”.
Dan seterusnya …

Ketiga, ‘GURUNYA MANUSIA’, yaitu guru yang mempunyai keikhlasan dalam hal mengajar dan belajar. Guru yang mempunyai keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswanya berhasil memahami materi-materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas untuk introspeksi apabila ada siswanya yang tidak bisa memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar. Sebab mereka sadar, profesi guru adalah makhluk yang tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang keinginannya kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan mengembangan.

GURUNYA MANUSIA , juga manusia yang membutuhkan ‘penghasilan’ untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bedanya dengan GURU MATERIALIS, GURUNYA MANUSIA menempatkan penghasilan sebagai AKIBAT yang akan didapat dengan menjalankan kewajibannya. Yaitu Keikhlasan mengajar dan belajar.

Sudah banyak contoh yang mana rizki seorang guru tiba-tiba diguyur oleh Allah SWT dari pintu yang tidak terduga, atau dari akibat guru tersebut terus menerus belajar.
Ada teman guru yang mendapatkan kesempatan ‘belajar’ di luar negeri sebab mempunyai prestasi dalam membuat lessonplan. Ada teman guru mendapatkan rizki sebab dengan tekun menulis buku ajar untuk siswa di sekolah tempat dia bekerja. Ada teman guru yang menulis kisah-kisah yang unik yang dialami di kelas pada saat dia belajar. Ada teman guru yang sekarang menjadi ‘bintang’ banyak sekali dibutuhkan pemikiran-pemikirannya untuk banyak guru di Indonesia, dan lain-lain.
Walhasil, Allah tidak maha mendengar. Maha melihat dan maha mengetahui apa yang dinginkan oleh hambanya yang bertawakkal.
Sekarang … tundukkan wajah sejenak. Ambil nafas … lakukan instropeksi. Anda termasuk guru jenis yang mana? Bagaimanapun anda. Sekarang anda sudah tahu harus bagaimana menjadi seorang guru yagn professional.

Dikutip dari: http://munifchatib.wordpress.com


Aksi

Information

2 responses

17 05 2012
Satrio (Rio Utomo)

kalo dalam 1 bulan guru hanya mendapat byaran 200rb, apakah bisa menjadi guru yang profesional, sedangkan kehidupan tidak hanya itu-itu aja…. kebanyaka guru yang mendapat bayaran seperti itu selalu berfikir :
apa yang harus saya lakukan agar kehidupan saya menjadi lebih baik, kalo anak saya sakit dan butuh biaya banyak bagaimana ya…, dirumah masak apa yah, ada beras atau tidak ya…. dan mungkin masih banyak lagi………..

mungkin tulisan-2 diatas menuntut untuk para guru profesional, tapi jika yang mereka alami seperti yang saya contohkan apakah masih bisa profesional.
mungkin guru bisa profesional jika kebutuhan hidupnya dan keluarganya dapat terpenuhi, seperti sudah PNS atau di gaji cukup besar oleh yayasan…///
kalo hanya sekisar 200rb-an, mau diputer buat apa…. buat kebutuhan sendiri saja tidak cukup……
coba anda berfikir dan rasakan sendiri….
karena saya sudah lelah untuk merasakannya, dan saya lebih memilih mencari pekerjaan lain yang lebih baik.

19 02 2013
SURIYANI,S.Pd

Saya juga pernah mengalami seperti anda , tetapi anda beranggapan seperti itu termasuk sudah tidak ikhlas . Padahal mengajar itu panggilan hati
dan keikhlasan seperti apa yang dikatakan ” Gurunya Manusia itu betul sekali “. Sedikit saya cerita : Dulu saya seorang guru swasta yayasan kecil , boleh dikata gaji yang sangat minim , gaji 1 bulan hanya bisa buat beli beras 5 kg tetapi niat , ikhlas dan semangat panggilan hati itulah akhirnya saya mengajar dengan sungguh – sungguh . Dengan keikhlasan ,kedekatan , dan kesabaran kita kepada anak – anak didik mungkin anak bercerita kepada orang tuanya . Saya tidak minta tiba – tiba rejeki itu mengalir meskipun mungkin tidak berarti bagi anda ya …saya menyadari mayoritas ekonomi wali murid saya dulu tergolong rendah bahkan banyak orang tua yang tidak pernah sekolah alias buta huruf. Kadang saya diberi sayur mentah , jagung , bahkan saya juga pernah di beri salah satu siswa yang ingin memberi kepada saya yaitu kue 1 kucur tapi saya terima dengan bangga hati. Saya bukan tipe manusia ingin di puji ketika ada lomba tingkat sekolah ataupun kecamatan apa yang saya lakukan ” Aku harus bisa , muridku pasti bisa ” itu semboyanku sampai sekarang. Kulatih murid – muridku dengan senang hati dia belajar denganku , suasana kubuat nyantai seakan – akan anak tidak terbebani makan , minum kuberi dengan gratis tanpa minta Kepala Sekolah ataupun orang tuanya. Kadang juga anak kuajak pulang dengan ijin orang tua , bahkan anak saya motivasi kalau menang pasti saya beri hadiah kadang uang. Dengan kemenangan itu ( saya tidak pamrih ) orang tua semakin percaya kepada saya. Akhirnya berbondong – bondong orang tua meminta saya untuk memberikan tambahan pelajaran.Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya mau tanpa melihat upah mereka akan mengerti , dari mulut ke mulut wali murid saya juga dimintai tolong oleh tetangganya anak sekolah lain Alhamdulillah mengalir dengan sendirinya . Karena saya sering membawa nama baik sekolah dengan keberhasilan murid – murid saya, akhirnya saya diangkat menjadi Kepala Sekolah karena Kepala Sekolah saya yang lama Pensiun.Sampai sekarang Alhamdulillah dengan keikhlasan saya sudah menjadi guru PNS. Saya juga masih menerapkan hal yang sama bahkan anak – anak kalau saya kebetulan ada tugas dari Kepala Sekolah saya malu karena jika saya tidak mengajar karena tugas kue selalu menanti kedanganku.Bahkan hari ulang tahun mereka tahu meskipun sekarang sudah bukan murid saya lagi. Pernah saya ada tugas ke Yogyakarta selama 3 hari , ketika saya masuk kelas aku merasa bersalah kelas tampak sepi dan gelap ya Allah dimana anak – anak aku takut anak – anak demo karena sering saya tinggal ( maaf saya salah satu koordinator Adiwiyata ) ketika ku nyalakan lampu saya dikejutkan anak – anak ” Selamat datang bu Yanie….sambil berdiri dari bawah bangku bergantian berjabat tangan. Alhamdulillah sobat kita jangan takut miskin kalau kita ikhlas untuk berbuat dan memberikan sesuatu kepada orang lain jangan takut miskin itu sudah kualami Allah Maha Melihat. Sampai sekarangpun meskipun kelas saya pararel sekolah saya merupakan sekolah kawasan, semangat saya masih tetap saya masih menciptakan anak – anak prestasi di kelas saya setiap ada lomba bahkan ada yang pernah menjadi juara Tingkat Nasional tanpa pamrih meskipun kita harus berkorban semua akan menjadi barokah .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: