Mentransformasikan Organisasi Menjadi Learning Organizations

9 01 2008

Perubahan tetap dan akan terus terjadi, dengan atau tanpa adanya kita. Kesiapan untuk menghadapi perubahan merupakan pekerjaan besar yang harus dipersiapkan agar kita bisa bertahan akibat gilasan perubahan. Perubahan itu terjadi di luar dari diri kita dan tidak akan berkompromi dengan diri kita. Pante rei, menurut filsafat Yunani, segalanya bergerak, segalanya mengalir, dan segalanya berubah karena perubahan merupakan tanda kehidupan.


Apa yang harus dipersiapkan dalam menghadapi perubahan-perubahan tersebut? Haruskah kita berdiam diri, menunggu, dan akhirnya dilibas oleh perubahan global tersebut? Atau kita kemudian memberikan reaksi dengan sangat reaktif dan kemudian menantang perubahan tersebut ?

Ketika perubahan itu datang dari luar diri kita dan kemudian kita bersikap reaktif dengannya, melawannya, bahkan antipati dengan perubahan tersebut, maka kita menjadi bagian orang-orang yang kalah. Untuk menghadapi perubahan itu kita harus berubah, selalu antisipatif dengan kemungkinan-kemungkinan baru, dan kreatif menghadapi perubahan. Satu hal konkrit yang bisa kita lakukan adalah dengan BELAJAR.
Hakikat belajar adalah perubahan, sedangkan manusia yang tidak mau dan mampu lagi untuk berubah, dia telah mati. Merasa nyaman pada posisi sekarang, terlena pada zona nyaman, dan merasa tenang dengan kemapanan yang telah didapatkan, innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Ya…, dia telah MATI (RIP-Rest in Peace).

Belajar menjadi kata kunci dari proses perubahan. Sekarang yang menjadi pertanyaan BESAR adalah sudahkah kita belajar? Sudahkah kita berubah dengan kita belajar?
Kadang kita sudah merasa cukup belajar dengan hanya menghafal pelajaran, membaca buku-buku tebal, menghapal rumus-rumus rumit, dan memahami materi-materi yang didapatkan. Contohnya, selama ini kita hanya belajar tentang manusia, dengan alat Biologi, Sosiologi, Antropologi, Psikologi, dan logos-logos lainya. Namun kita sering melupakan untuk belajar melakukan dan belajar menjadi manusia, dengan memahami jati diri kita, kenapa kita ada di muka bumi ini, kenapa kita diciptakan, dan fitrah seperti apa yang seharusnya kita lakukan. Kita hanya berkutat mempelajari skenario kehidupan kita, namun kita lupa untuk memainkan peran dalam skenario kehidupan tersebut.

Sekarang saatnyalah kita membenahi proses belajar kita selama ini. Mari belajar dengan mengalami apa yang kita pelajari. Karena kita tahu bahwa belajar yang paling berarti adalah belajar dari pengalaman, sehingga pada akhirnya kita akan bisa menjadi diri kita sendiri setelah melewati proses pengalaman yang panjang.
Salah satu usaha untuk bisa menghadapi perubahan adalah dengan terus menyempurnakan usaha untuk menjadi manusia pembelajar. Ciri utama manusia pembelajar adalah selalu memperkaya kapasitas dirinya, memperbaiki kekurangannya, terbuka terhadap kritik dan masukan orang lain, dan tidak kolot terhadap perubahan. Dia adalah sosok manusia yang dinamis, selalu membelajarkan dirinya dan juga mengajak orang-orang di sekelilingnya untuk terus belajar.
Sampai kemudian, ketika manusia-manusia pembelajar telah banyak dan berkumpul dalam sebuah komunitas, sebuah lembaga, kelompok binaan, ataupun sebuah organisasi, mereka dengan kesadaran yang luar biasa, berusaha menjadikan komunitas mereka sebagai komunitas pembelajar. Di manapun dia berada, dia selalu menggelorakan semangat belajar (lifetime learning). Tidak ada satu kejadianpun yang terlewatkan, melainkan untuk menggali pelajaran dan hikmah. Setiap hari adalah perbaikan (istimrorul ihsan) untuk menjadi lebih baik dan menuju kepada kesempurnaan (Kaizen).

Andrias Harefa menyebutkan tiga tugas utama seorang manusia, yaitu menjadi: manusia pembelajar, pemimpin sejati dan guru. Bagaimana manusia pembelajar sudah sedikit dipaparkan, sementara pemimpin sejati merupakan proses yang harus di awali dengan menjadi manusia pembelajar. Pemimpin sejati adalah orang yang mampu mengorganisiasikan dirinya, mengorganisasikan sumber-sumber di sekitarnya, dan membimbing orang-orang di sekelilinya untuk menjadi manusia pembelajar. Setiap orang mempunyai potensi menjadi pemimpin, karena setiap orang adalah pemimpin, dan dibalik setiap kepemimpinan ada sebuah tanggung jawab, yang merupakan tolok ukur dari tingkat kedewasaan seseorang. Sementara untuk menjadi dewasa, seseorang harus BELAJAR.

Sedangkan GURU merupakan tingkatan di mana dia telah mampu menjadikan hari-harinya menjadi hari yang penuh hikmah, mampu memberikan solusi bagi orang-orang di sekelilingnya, dari sentuhan tarbiyahnya (pendidikan), telah melahirkan pemimpin-pemimpin sejati yang mampu menjadikan dirinya sebagai unsur perubahan (agent of change). Seorang guru dalam proses mendidiknya mampu menjalankan fungsinya sebagai seorang: walid (orang tua), syaikh (bapak spiritual), ustadz (guru), dan Qoid (pemimpin).

Baik manusia pembelajar, pemimpin sejati, maupun guru mengemban tugas menjadikan masyarakatnya menjadi masyarakat pembelajar, dan menjadikan lingkungan di mana mereka beraktivitas sebagai lingkungan pembelajar. Masyarakat pembelajar dimungkinkan akan terwujud dengan dikembangkannya organisasi pembelajar (Learning organization).

Organisasi pembelajar adalah organisasi yang memberikan kesempatan dan mendorong setiap individu yang ada dalam organisasi tersebut untuk terus belajar dan memperluas kapasitas dirinya. Dia merupakan organisasi yang siap menghadapi perubahan dengan mengelola perubahan itu sendiri (managing change).

Komponen Learning Organization (LO)
Untuk memulai mentransformasikan organisasi di mana kita berada sekarang, terlebih dulu, mari kita cermati komponen-komponen penting yang harus ada dalam organisasi pembelajar.
1. Learning (Belajar)
2. Organization (Organisasi)
3. People (Orang)
4. Knowlegde (Pengetahuan)
5. Technology (Teknologi)

Secara kasat mata, kelima komponen tadi ada dalam organisasi manapun, baik organisasi konvensional maupun organisasi modern yang sudah menerapkan prinsip-prinsip pengembangan organisasi. Lalu apa bedanya? Mari kita cermati bersama.

Belajar dalam LO merupakan ruh yang memberikan gerak bagi maju mundurnya suatu organisasi. Belajar menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan yang dilakukan organisasi atau perusahaan tersebut. Setiap orang yang ada dalam LO didorong untuk mengembangkan diri dan memperkaya kapasitas dirinya. Setiap individu terlatih dalam skill-skill belajar, learning how: to do, to learn, to be, to life together. Mereka juga dengan antusiasme yang luar biasa, terus berusaha menerapkan metode percepatan belajar. Dinamika pembelajaran itu berkembang tidak hanya pada diri mereka seorang, tapi juga berkembang pada kelompok, bahkan sudah menjadi budaya organisasi.

Dari sisi Organisasi, organisasi yang mempunyai semangat LO, mereka akan memperjelas visi organisasi mereka, yang digali dari visi-visi individu. Visi mereka adalah visi yang jelas, semua orang menghayati visi tersebut, karena visi tersebut digali dari diri mereka. Dalam LO ada sebuah iklim yang terbentuk yang mendorong individu-individu yang ada untuk berkembang. Secara struktural, LO adalah organisasi yang ramping, tidak gemuk dengan birokrasi yang njlimet dan berbelit. Struktur yang ramping memungkinkan orang-orang yang ada dapat berkoordinasi dengan efektif dan efesien. Dalam pelaksaan program kerja dan kegiatan, orientasinya bukan pada hasil dan target pencapaian waktu saja, tapi lebih pada proses, terlebih pada proses pembelajarannya.

Pemberdayaan SDM di LO menjadi bagian yang penting, orang yang ada di dalam organisasi, maupun orang-orang yang ada di luar organisasi. Tidak ada gap atasan dan bawahan. Hungungan dengan customer dibina dengan baik.
Knowlegde Management menjadi kebutuhan pokok yang harus dijalankan dengan untuk memudahkan sirkulasi pengetahuan sehingga bisa berkembang dengan baik. Pengetahuan dikelola dengan baik, dari bagaimana mendapatkan pengtahuan, menciptakan pengetahuan baru, menyimpannya, dan kemudian menyebarkan pengatahuan untuk kemudian digunakan.

Dan yang terahir adalah pemanfaatan teknologi, yaitu berupa sistem informasi, belajar berbasikan teknologi (komputer), sistem kinerja tinggi dengan sistem pendukung. Untuk yang terakhir ini, masih cukup sulit dikembangkan di negara berkembang.

Prinsip-prinsip Learning Organization
Organisasi Pembelajar didasarkan atas beberapa ide dan prinsip yang integral kedalam struktur organisasi. Peter Senge dalam hal ini menyebutkan bahwa inti dari Organisasi Pembelajar adalah Disiplin Kelima (The Fifth Discipline), kelima disiplin itu adalah:
1. Keahlian Pribadi (Personal Mastery)
2. Model Mental (Mental Model)
3. Visi Bersama (Shared Vision)
4. Pembelajaran Tim (Team Learning)
5. Pemikiran Sistem (System Thinking)

Sementara itu Michael J. Marquardt menambahkan satu disiplin lagi yaitu dialog (dialogue). Hampir sama dengan Marquardt, Douglas Guthrie menambahkan dan menyempurnakan apa yang sudah di sampaikan oleh Peter Senge, penambahan dan penyempurnaan itu adalah:
1. Pembelajaran Tim dan Pembelajaran Umum (Public and Team Learning)
2. Bertindak dengan penuh makna dan kemungkinan (Acting in High Level of Ambiguity)
3. Dialog secara umum (Dialogue Generatively)
4. Melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan (Viewing the Organization as an Integrated Whole)

1. Penguasaan Pribadi (Personal Mastery)
Penguasaan pribadi adalah suatu budaya dan norma lembaga yang terdapat dalam organisasi yang diterapkan sebagai cara bagi semua individu dalam organisasi untuk bertindak dan melihat dirinya.
Penguasaan pribadi merupakan suatu disiplin yang antara lain menunjukkan kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan energi, mengembangkan kesabaran, dan memandang realitas secara obyektif.
Penguasaan pribadi juga merupakan kegiatan belajar untuk meningkatkan kapasitas pribadi kita untuk menciptakan hasil yang paling kita inginkan, dan menciptakan suatu lingkungan organisasi yang mendorong semua anggotanya mengembangkan diri mereka sendiri kearah sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan yang mereka pilih.

2. Model/pola Mental (Mental Model)
Model mental adalah suatu prinsip yang mendasar dari Organisasi Pembelajar, karena dengannya organisasi dan individu yang ada di dalamnya diperkenankan untuk berpikir dan merefleksikan struktur dan arahan (perintah) dalam organisasi dan juga dari dunia luar selain organisasinya.
Senge menyebutkan bahwa model mental adalah suatu aktivitas perenungan, terus menerus mengklarifikasikan, dan memperbaiki gambaran-gambaran internal kita tentang dunia, dan melihat bagaimana hal itu membentuk tindakan dan keputusan kita.
Model mental terkait dengan bagaimana seseorang berpikir dengan mendalam tentang mengapa dan bagaimana dia melakukan tindakan atau aktivitas dalam berorganisasi. Model mental merupakan suatu pembuatan peta atau model kerangka kerja dalam setiap individu untuk melihat bagaimana melakukan pendekatan terhadap masalah yang dihadapinya. Dengan kata lain, model mental bisa dikatakan sebagai konsep diri seseorang, yang dengan konsep diri tersebut dia akan mengambil keputusan terbaiknya.

3. Visi Bersama (Shared Vision)
Visi bersama adalah suatu gambaran umum dari organisasi dan tindakan (kegiatan) organisasi yang mengikat orang-orang secara bersama-sama dari keseluruhan identifikasi dan perasaan yang dituju.
Dengan visi bersama organisasi dapat membangun suatu rasa komitmen dalam suatu kelompok, dengan membuat gambaran-gambaran bersama tentang masa depan yang coba diciptakan, dan prinsip-prinsip serta praktek-praktek penuntun yang melaluinya kita harapkan untuk bisa mencapai masa depan.
4. Belajar Tim dan Belajar Umum (Public and Team Learning).
Belajar Tim adalah suatu keahlian percakapan dan keahlian berpikir kolektif, sehingga kelompok-kelompok manusia secara dapat diandalkan bisa mengembangkan kecerdasan dan kemampuan yang lebih besar dari pada jumlah bakat para anggotanya.
Public learning sendiri mengarah pada prinsip-prinsip melalui individu-individu yang didorong untuk belajar secara terbuka dan menggali apa yang tidak mereka ketahui sekarang.

5. Pemikiran Sistem (Systems Thinking)
Pemikiran sistem (berpikir sistem) adalah suatu kerangka kerja konseptual. Yaitu suatu cara dalam menganalisis dan berpikir tentang suatu kesatuan dari keseluruhan prinsip-prinsip Organisasi Pembelajar. Tanpa kemampuan menganalisis dan mengintegrasikan disiplin-disiplin Organisasi Pembelajar, tidak mungkin dapat menerjemahkan disiplin-displin itu kedalam tindakan (kegiatan) organsasi yang lebih luas.
Disiplin ini membantu kita melihat bagaimana kita mengubah sistem-sistem secara lebih efektif, dan bertindak lebih selaras dengan proses-proses yang lebih besar dari alam dan dunia ekonomi.
Berpikir sistem ini pengertiannya hampir sama dengan apa yang disampaikan oleh Guthrie tentang Melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan (Viewing organization as integrated whole).

6. Bertindak dengan penuh makna (Acting in High Level of Ambiguity)
Dalam Organisasi Pembelajar, setiap individu didorong untuk dapat memanfaatkan seluruh kemampuan dan kecerdasannya untuk menyikapi tantangan yang seringkali rumit dan penuh kemungkinan (ambiguitas). Individu yang mampu menerapkan prinsip ini mampu beradaptasi dengan baik dengan lingkungannya yang baru sekalipun. Modal utama untuk dapat menerapkan prinsip ini adalah memanfaatkan pengetahuan dan seluruh potensinya tersebut.
Jika pada masa manajemen berdasarkan ilmu pengetahuan dan keuangan, akan menghasilkan budaya ketelitian dalam organisasi, maka saat manajemen didasarkan pada perancangan dan pembelajaran, harus melahirkan budaya yang menyenangkan dalam berbagai bidang kemungkinan. Komitmen dari suatu lembaga dan budaya terhadap prinsip ini merupakan bagian penting dari Organisasi Pembelajar, karena ini adalah kesatuan untuk menerima fakta bahwa masa mendatang dan struktur organisasi itu sendiri adalah tetap akan terus berubah.
Pihak manajemen dan para pegawai harus merasa senang untuk bertindak dalam berbagai kemungkinan yang sulit.

7. Dialog (Dialogue Generatively)
Dialog adalah suatu bagian yang fundamental dari Organisasi Pembelajar. Dalam arti yang sederhana, dialog adalah komunikasi. Ini adalah gabungan dari berbagai interaksi dalam organisasi. Melalui dialog, setiap individu dengan interaktif menggali dan menyelesaikan satu atau seluruh aspek tindakan yang ada dalam organisasi, bagaimana mereka menerima sistem dan struktur dari organisasi, apa visi organisasi mereka.
Dialog merupakan bagian yang penting dari Public Learning. Hanya dengan dialog, individu dapat menggali dengan interaktif berbagai isu yang ada dalam organisasi. Poin penting dari dialog adalah tidak hanya untuk memahami apa yang terjadi dalam organisasi, bagaimana individu mendapatkan pengalaman struktur dan proses dalam organisasi, tapi juga untuk mengarahkan model-model baru, keterbukaan baru, dan tujuan baru untuk mendapatkan tindakan yang lebih efektif dan pemahaman dan keyakinan yang mendalam.

8. Melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan (Viewing the Organization as an Integrated Whole)
Inilah gambaran organisasi sebagai suatu gabungan dari individu-individu yang ada dalam organisasi.

Pertama, organisasi harus dilihat sebagai satu kesatuan dari seluruh komponen yang ada dalam organisasi. Melihat gambaran yang lebih besar dari organisasi sebagai keseluruhan yang dinamis adalah sesuatu yang penting untuk memahami bagaimana organisasi bergerak dan bagaimana individu-individu dalam organisasi bergerak. Tindakan para manager akan berdampak pada budaya organisasi, begitu juga tindakan dari beberapa departemen atau bidang dalam organisasi, akan berdampak pada keseluruhan sistem yang ada pada organisasi. Oleh karena itu, melihat organisasi sebagai satu keseluruhan yang tak terpisahkan merupakan langkah penting untuk memahami organisasi.
Kedua, organisasi harus dilihat sebagai sebuah sistem sosial dunia yang dibangun, di mana proses dan keluaran merupakan hasil dari faktor jaring sosial yang semuanya bergabung dalam jalan yang membingungkan dan ambigu. Jika sebuah organisasi ingin mengetahui usaha yang dapat berpengaruh terhadap keluaran, maka perlu adanya pendekatan yang beragam (multivariative approach) untuk masalah yang dihadapi dan menerima fakta dari beberapa variabel (komponen) yang berpengaruh walaupun mungkin tidak diperhitungkan sama sekali.

Penutup…..
Perlu diingat dan diperhatikan, TIDAK ADA ORGANISASI YANG BENAR-BENAR MERUPAKAN LEARNING ORGANIZATION. Jadi jika ada organisasi yang mengklaim dirinya adalah LO, justru dia tidak memahami konsep LO, dan dia bukan LO. LO merupakan proses menuju kesempurnaan, dengan perubahan-perubahan baik dari dalam-maupun dari luar. Sama halnya dengan belajar, tidak ada kata akhir dalam belajar. Begitu juga dengan Learning Organization, tidak ada kata akhir dalam LO, yang ada adalah upaya terus menerus untuk belajar, memperbaiki diri, menuju kesempurnaan.

Oleh: Roi Anjas Suprayogi


Aksi

Information

One response

6 12 2010
Ella

Pak, mnt izinnya untk mengcopy bt bhn tesis sya.mksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: